Bagi orang Inggris, teh bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas dan budaya sehari-hari.
Menurut Asosiasi Teh & Infus Inggris (UKTIA), sekitar 100 juta cangkir teh diminum setiap harinya di Inggris.
Hal ini membuat Inggris dikenal dengan tradisi minum tehnya.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, kenapa orang Inggris sangat menyukai teh?
Lalu, seperti apa sejarah teh di Inggris sehingga menjadi minuman favorit?
Simak jawaban lengkapnya di artikel berikut!
Sejarah Minum Teh di Inggris

Kebiasaan minum teh di Inggris punya sejarah panjang yang menarik.
Dilansir dari BBC, awalnya teh datang dari Tiongkok ke Eropa pada awal 1600-an melalui pedagang Belanda.
Di Inggris sendiri, teh pertama kali tiba pada pertengahan abad ke-17, atau sekitar tahun 1650-an, ketika disajikan di kedai kopi London.
Saat itu, teh masih langka dan hanya segelintir orang yang bisa mencobanya.
Catatan awal tentang minum teh di Inggris bahkan muncul dari buku harian Samuel Pepys, seorang penulis buku harian terkenal, pada tahun 1660.
Ia menulis pengalamannya mencoba “minuman dari Tiongkok” tersebut, meskipun tidak jelas apakah ia menyukainya atau tidak.
Namun, satu hal pasti: dari sanalah kisah panjang teh di Inggris mulai terdokumentasi.
Popularitas teh mulai menanjak ketika Raja Charles II menikahi Catherine dari Braganza, seorang putri asal Portugal, pada tahun 1662.
Catherine yang sudah terbiasa minum teh sejak kecil membawa kebiasaan itu ke istana Inggris. Dari lingkungan kerajaan, teh perlahan menyebar ke kalangan bangsawan dan menjadi simbol status sosial.
Sejak saat itu, permintaan teh pun semakin tinggi. Melihat situasi ini, East India Company mulai mengimpor teh secara besar-besaran sejak tahun 1664.
Namun, karena pajak yang tinggi, teh hanya bisa dinikmati kalangan orang-orang kaya.
Kondisi ini memicu maraknya penyelundupan teh pada abad ke-18 karena masyarakat kelas menengah dan bawah juga ingin menikmatinya.
Situasi berubah ketika Perdana Menteri William Pitt the Younger menurunkan pajak teh pada tahun 1783, sehingga teh bisa diakses semua kalangan.
Sejak saat itu, teh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari orang Inggris.
Tradisi menambahkan susu ke dalam teh pun muncul, baik untuk melembutkan rasa maupun melindungi cangkir porselen tipis dari panas.
Hingga awal abad ke-20, penemuan teh celup semakin memudahkan orang untuk menikmatinya sehingga menjadi minuman favorit yang melekat erat dalam budaya Inggris.
Alasan Orang Inggris Suka Minum Teh
Bagi orang Inggris, teh bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas budaya yang begitu melekat.
Selain faktor sejarah, alasan orang Inggris menyukai teh juga karena rasanya yang khas.
Teh hitam, yang paling populer di Inggris, memiliki cita rasa kuat dengan sedikit pahit berkat senyawa theaflavin.
Tambahan susu atau gula membuatnya lebih lembut, dan dari sinilah lahir kebiasaan minum teh dengan susu yang masih bertahan hingga kini.
Teh juga menawarkan efek menyegarkan. Kandungan kafeinnya cukup untuk mengusir kantuk, sementara zat theanine memberi efek menenangkan dan membantu fokus.
Tidak heran, teh jadi pilihan ideal untuk menemani istirahat singkat, obrolan ringan, hingga momen sosial.
Selain itu, teh juga menjadi penanda identitas sosial.

Antropolog Kate Fox dalam bukunya Watching the English menyebut bahwa cara seseorang menyeduh dan meminum teh sering mencerminkan kelas sosialnya.
Misalnya, teh hitam kental dengan gula dan susu dikenal sebagai builder’s tea khas kelas pekerja, sementara teh ringan tanpa gula lebih lekat dengan kelas menengah dan atas.
Yang menarik, teh juga berfungsi sebagai “pengisi ruang sosial”.
Saat suasana canggung atau tidak nyaman, orang Inggris cenderung membuat teh sebagai cara mencairkan suasana.
Ajakan “Shall we have a cup of tea?” bukan sekadar menawarkan minuman, tetapi juga menawarkan keakraban.
Kini, alasan orang Inggris suka teh tidak bisa dipisahkan dari kombinasi sejarah, rasa, manfaat, serta makna sosial yang melekat di dalamnya.
Teh bukan sekadar minuman hangat, tetapi sebuah tradisi yang membentuk identitas bangsa dan budaya mereka hingga saat ini.
Tradisi Minum Teh di Inggris
Bagi masyarakat Inggris, teh bukan sekadar minuman hangat untuk menemani waktu luang. Teh sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya selama berabad-abad.
Tradisi minum teh hadir di hampir setiap sudut kehidupan orang Inggris.
Mengutip UK Tea & Infusions Association, berikut beberapa tradisi teh yang paling terkenal di Inggris:
Afternoon Tea

Tradisi afternoon tea pertama kali diperkenalkan oleh Anna, Duchess of Bedford (gelar kebangsawanan wanita tertinggi), pada tahun 1840.
Kala itu, ia sering merasa lapar menjelang sore, sementara jamuan makan malam biasanya baru dimulai pukul delapan malam.
Untuk mengisi jeda tersebut, ia meminta disajikan teh bersama roti dan kue di kamarnya sekitar pukul empat sore.
Kebiasaan sederhana ini lama-kelamaan menjadi rutinitas, bahkan ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung.
Tidak butuh waktu lama hingga afternoon tea berubah menjadi acara sosial bergengsi di kalangan bangsawan.
Pada tahun 1880-an, para wanita kelas atas bahkan berganti busana formal lengkap dengan gaun panjang, sarung tangan, dan topi elegan sebelum menghadiri jamuan teh sore.
Momen ini bukan sekadar untuk menghilangkan lapar, tetapi juga ajang bersosialisasi dan menunjukkan status sosial.
Menu afternoon tea klasik biasanya terdiri dari sandwich kecil (termasuk sandwich mentimun yang terkenal), scone dengan clotted cream dan selai, kue manis, serta aneka pastry.
Teh yang disajikan umumnya berasal dari India atau Sri Lanka, dituangkan dari teko perak ke dalam cangkir porselen halus.
Seiring waktu, tradisi ini pun menyesuaikan diri.
Di rumah-rumah modern, afternoon tea lebih sederhana, cukup berupa secangkir teh celup ditemani biskuit atau kue kecil.
Meski begitu, banyak hotel dan restoran di Inggris tetap mempertahankan versi mewahnya, sehingga wisatawan bisa merasakan pengalaman autentik afternoon tea layaknya kaum bangsawan di masa lalu.
Tea Gardens dan Tea Dance
Pada abad ke-18, teh mulai merambah ke ruang publik melalui tea gardens, tempat hiburan terbuka di mana pengunjung bisa bersantai, menonton pertunjukan, dan tentu saja minum teh.
Dari sinilah lahir tradisi tea dance, yaitu acara menari sore hari yang sempat populer hingga Perang Dunia II.
Beberapa tempat di Inggris masih mempertahankan tradisi ini sebagai nostalgia masa lampau.
Teetotal dan Gerakan Anti Alkohol
Ketika kota-kota Inggris tumbuh pesat pada awal 1800-an, banyak tea gardens atau taman teh tutup.
Namun, teh justru menjadi simbol baru dalam gerakan temperance, yakni kampanye melawan konsumsi alkohol berlebihan.
Pertemuan sosial diganti dengan “tea meetings”, dan istilah teetotal pun diyakini berasal dari kata “tea” yang melambangkan gaya hidup tanpa alkohol.
High Tea
Bagi kalangan pekerja dan petani, high tea menjadi versi lebih “berisi” dari afternoon tea.
Disajikan sebagai makan utama pada sore hari, high tea terdiri dari daging, roti, kue, dan tentu saja teh panas.
Tradisi ini mencerminkan perbedaan kelas sosial, di mana teh tetap menjadi pengikat antara pekerja keras dan bangsawan.
Tea Shops
Pada pertengahan abad ke-19, muncul tea shops, tempat nyaman bagi siapa pun yang ingin menikmati teh dan makanan ringan.
Uniknya, tempat ini juga berperan dalam pemberdayaan perempuan.
Di masa itu, seorang wanita bisa bertemu teman-temannya di tea shop tanpa pendamping tanpa dianggap tidak sopan.
Hingga kini, tea shop tetap populer dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mencicipi nuansa klasik Inggris.
Tea Breaks
Sejak sekitar 200 tahun lalu, tea break menjadi bagian penting dari rutinitas kerja di Inggris.
Awalnya, tradisi ini diberikan untuk pekerja pabrik di pagi dan sore hari agar mereka bisa beristirahat sejenak.
Meski sempat hampir berhenti karena dianggap membuat para pekerja malas, tradisi itu masih bertahan hingga kini.
Menyeruput secangkir teh di sela pekerjaan dianggap cara terbaik untuk menyegarkan pikiran dan menjaga semangat kerja.
Teh dalam Kehidupan Modern Orang Inggris
Bagi orang Inggris, teh bukan sekadar minuman, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan data dari UK Tea & Infusions Association (UKTIA), sekitar 84% penduduk Inggris minum teh setiap hari, dan hampir 98% dari mereka menikmatinya dengan susu.
Bayangkan saja, ada sekitar 100 juta cangkir teh yang diseduh setiap harinya di seluruh Inggris!
Tak heran jika negara ini menempati posisi ketiga sebagai peminum teh terbanyak di dunia, setelah Turki dan Irlandia.
Meski kini banyak pilihan minuman modern seperti kopi, jus, atau minuman energi, teh hitam tradisional tetap menjadi favorit utama.
Rata-rata, orang Inggris meminum sekitar 2–3 cangkir teh per hari.
Biasanya teh disajikan dengan susu dan kadang sedikit gula atau lemon, tergantung selera masing-masing.

Namun, bagi kebanyakan orang Inggris, kenikmatan sejati ada pada kombinasi klasik, yaitu teh hangat dan percakapan santai.
Dalam kehidupan modern, minum teh tidak hanya soal rasa, tapi juga soal ritual sosial dan kenyamanan emosional.
Di rumah, di kantor, atau bahkan di tengah kesibukan kota London, secangkir teh sering jadi alasan untuk beristirahat sejenak, menenangkan pikiran, atau memulai obrolan ringan.
Tak jarang, teh juga dianggap sebagai alternatif minuman beralkohol, terutama di kalangan pekerja yang mencari kehangatan dan ketenangan setelah seharian bekerja.
Meskipun generasi muda mulai melirik teh hijau dan teh herbal, mayoritas orang Inggris dari segala usia masih setia pada teh hitam klasik.
Tradisi ini terus hidup karena minum teh sudah menjadi simbol keramahan dan identitas budaya Inggris.
Bahkan, ada tata krama tersendiri dalam menyajikannya, seperti menyeduh teh dalam teko dan memberi waktu sekitar tiga hingga lima menit agar rasanya sempurna.
Dari abad ke-18 hingga kini, teh tetap menjadi benang halus yang menenun kehidupan sosial Inggris.
Satu cangkir teh mungkin terlihat sederhana, tapi bagi orang Inggris, di situlah kehangatan, sopan santun, dan rasa kebersamaan berpadu menjadi satu.
Kesimpulan
Bagi orang Inggris, teh telah menjadi bagian penting dari budaya dan identitas mereka sejak abad ke-17.
Dari tradisi afternoon tea hingga kebiasaan minum teh harian, minuman ini melambangkan kenyamanan, kebersamaan, dan sopan santun.
Meski banyak minuman “kekinian” yang bermunculan, teh tetap menjadi minuman nasional Inggris yang mencerminkan gaya hidup tertata dan hangat.
Bagi mereka, secangkir teh bukan sekadar minuman, tetapi simbol tradisi dan ketenangan yang melekat dalam kehidupan mereka.