Bo-Kaap: Kawasan Melayu di Cape Town yang Dihuni Orang Keturunan Indonesia

Di tengah Cape Town, Bo-Kaap menjadi jejak hidup komunitas Melayu yang memiliki akar kuat dari Nusantara.
Bo-Kaap, Kawasan Melayu di Cape Town yang Dihuni Orang Keturunan Indonesia

Banyak orang yang pernah mendengar bahwa Suriname, sebuah negara di Amerika Latin, cukup banyak dihuni oleh keturunan Indonesia dari suku Jawa. Mereka datang sebagai buruh kontrak di akhir abad ke-19.

Namun, tahukah Kamu ternyata ada sebuah kawasan di Afrika Selatan yang juga dihuni oleh banyak keturunan Indonesia? 

Kawasan yang dimaksud ialah Bo-Kaap, sebuah pemukiman di kota Cape Town, Afrika Selatan.

Bo-Kaap dikenal sebagai perkampungan Melayu Islam yang tak hanya dihuni oleh orang keturunan Indonesia, tapi juga Malaysia, Madagascar, hingga India.

Lalu, mengapa orang keturunan Indonesia bisa sampai dan menetap di Bo-Kaap?

Sejarah Kawasan Bo-Kaap di Cape Town

Pemukiman di Bo-Kaap, Cape Town, Afrika Selatan.
Pemukiman di Bo-Kaap, Cape Town, Afrika Selatan.

Bo-Kaap adalah sebuah kawasan di Cape Town, Afrika Selatan. Dilansir dari South African History Online, Bo-Kaap dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman tertua di Afrika Selatan.

Bo-Kaap diambil dari bahasa Afrikaans yang memiliki arti di atas “di atas tanjung”. Hal ini merujuk pada lokasinya di Cape Town.

Arsitektur kawasan Bo-Kaap memiliki ciri khas yang unik dengan deretan rumah berwarna-warni cerah. Selain itu, terdapat juga jalanan sempit yang terbuat dari bebatuan.

Dilansir dari Cape Town Travel, sejarah awal perkembangan kawasan Bo-Kaap dimulai pada tahun 1760-an.

Saat itu, seorang bernama Jan de Waal membeli sebidang tanah di kawasan Bo-Kaap.

Setahun kemudian, ia membeli sebidang tanah lagi yang berdekatan sehingga memperluas kepemilikannya. 

Pada 1763, ia kemudian mulai membangun “huurhuisjes” (rumah sewa) kecil di atas tanah tersebut.

Bangunan itu kemudian ia sewakan ke berbagai kelompok masyarakat, mulai dari budak hingga tahanan yang telah dibebaskan.

Awal Mula Kedatangan Keturunan Indonesia dan Melayu

Sejarah kedatangan keturunan Indonesia dan Melayu di Bo-Kaap.
Sejarah kedatangan keturunan Indonesia dan Melayu di Bo-Kaap.

Sejarah munculnya orang-orang keturunan Indonesia dan Melayu di Bo-Kaap dimulai pada pertengahan abad ke-17.

Saat itu, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sebuah perusahaan dagang Belanda mendirikan pos perdagangan di Cape Town untuk memfasilitasi kapal-kapal mereka yang berlayar di Eropa dan Asia.

VOC kemudian mendatangkan budak dari berbagai negara untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di pos perdagangan tersebut.

Budak yang didatangkan berasal dari Mozambik, Angola, Madagaskar, India, Indonesia, dan sejumlah wilayah lain di Asia Tenggara.

Budak yang datang dari Indonesia berasal dari sejumlah kota, yaitu Batavia (sekarang Jakarta), Makassar, Bali, dan Pulau Timor.

Selain budak, kawasan Cape juga dijadikan sebagai tempat pembuangan tahanan politik dan pemimpin agama yang dianggap mengancam kekuasaan VOC di wilayah jajahannya di Asia.

Mereka yang dianggap mengancam diasingkan ke Cape untuk mencegah perlawanan dan pemberontakan di tanah air mereka.

Mereka memiliki sebutan ‘Orang Cayen’, yaitu istilah yang merujuk pada orang-orang berpengaruh atau bangsawan.

Salah satu tokoh paling terkenal dari kalangan ‘Orang Cayen’ ini adalah Sheikh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani, seorang ulama dan bangsawan dari Gowa, Sulawesi.

Ia diasingkan ke Cape pada akhir abad ke-17 setelah memimpin perlawanan terhadap Belanda.

Orang Cayen seperti Sheikh Yusuf ini dianggap memiliki peran penting dalam membentuk komunitas Muslim di Cape.

Meskipun awalnya dibatasi oleh pemerintahan kolonial Belanda, praktik islam di kawasan ini berkembang dengan pesat.

Titik pentingnya adalah saat pendirian Masjid Awwal pada 1794 di Bo-Kaap. Masjid ini bahkan disebut sebagai masjid pertama di Afrika Selatan.

Masjid Awwal, tempat ibadah legendaris di Bo-Kaap.
Masjid Awwal, tempat ibadah legendaris di Bo-Kaap.

Dilansir dari Cape Town Travel, tanah pembangunan Masjid Awwal merupakan donasi dari seorang mantan budak bernama Coridon van Ceylon dan anaknya bernama Saartjie van de Kaap. 

Ketika dibebaskan, para budak dan tahanan politik ini mulai menghuni kawasan Bo-Kaap.

Mereka tinggal di ‘huurhuisjes’ milik Jan de Waal yang dibangun pada 1763.

Kawasan rumah sewa ini secara tak sengaja menciptakan lingkungan yang dihuni oleh orang-orang dengan latar belakang yang sama, khususnya para budak dan tahanan politik yang berasal dari wilaya Asia Tenggara.

Hal tersebut memicu munculnya pembentukan ikatan sosial yang erat dan praktik budaya bersama yang kemudian membuat semakin berkembangnya identitas komunitas melayu di Bo-Kaap.

Perkembangan Identitas dan Budaya Unik Cape Malay

Komunitas Melayu di Bo-Kaap memiliki identitas dan budaya yang unik.
Komunitas Melayu di Bo-Kaap memiliki identitas dan budaya yang unik.

Komunitas melayu yang terdiri dari budak dan tahanan politik semakin berkembang secara dinamis. Mereka kemudian dikenal sebagai komunitas Cape Malay. 

Istilah ini awalnya dipakai pada abad ke-19 untuk menyebut orang muslim di Cape. Malay sendiri merujuk pada bahasa Melayu yang digunakan dalam praktik keagamaan.

Islam memiliki andil besar dalam pembentukan komunitas Cape Malay di Bo-Kaap.

Selain Sheikh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani, tokoh agama lain yang berpengaruh dalam penyebaran islam di komunitas Cape Malay adalah Imam Abdullah Kadi Abdus Salaam atau biasa dipanggil Tuan Guru.

Tuan Guru merupakan pangeran dan ulama yang berasal dari Tidore, Indonesia. Ia diasingkan ke Pulau Robben di Cape Town karena perlawanannya terhadap Belanda.

Selama diasingkan di Pulau Robben, Tuan Guru menulis ayat-ayat Al-Quran yang ia ingat. Setelah dibebaskan, ia mendirikan madrasah (sekolah agama) pertama di Cape Town dan juga menjadi imam pertama Masjid Awwal di Bo-Kaap.

Masjid dan madrasah tersebut kemudian menjadi pusat kehidupan komunitas mulai dari ibadah, pendidikan, sosialisasi, hingga pelestarian budaya.

Selain Masjid Awwal, tempat penting lainnya bagi komunitas Cape Malay adalah tanah pemakaman muslim bernama Tana Baru.

Didirikan pada 1805, pemakaman muslim ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi tokoh muslim dan imam masjid di Bo-Kaap, seperti Tuan Guru.

Rumah Warna-Warni di Bo-Kaap

Rumah warna-warni di Bo-Kaap.
Rumah warna-warni di Bo-Kaap. (Foto: Expedia.co.id)

Bo-Kaap sangat dikenal dengan deretan rumah yang berwarna-warni. Rumah-rumah tersebut umumnya kecil dan dibangun berderet mengikuti kontur lereng Signal Hill, lokasi di mana Bo-Kaap berada.

Tradisi mengecat rumah dengan warna-warni cerah tak hanya keisengan semata.

Tradisi ini diyakini dimulai setelah terjadinya emansipasi atau pembebasan para budak di sana.

Sebagai bentuk kebebasan, para budak yang tinggal dan memiliki rumah di Bo-Kaap akhirnya mengecat rumahnya dengan warna-warni cerah karena sebelumnya rumah sewa tersebut harus berwarna putih.

Seiring berjalannya waktu, Bo-Kaap menjadi tempat tinggal bagi para pengrajin terampil, beberapa narapidana, orang buangan politik, dan terutama, para budak yang telah dibebaskan yang mencari tempat untuk membangun kehidupan baru.

Bahasa dan Budaya Melayu di Komunitas Cape Malay

Bahasa yang digunakan komunitas Cape Malay di Bo-Kaap punya evolusi yang unik.
Bahasa yang digunakan komunitas Cape Malay di Bo-Kaap punya evolusi yang unik.

Dalam hal bahasa, komunitas Cape Malay mengalami evolusi yang menarik. Mulanya, bahasa Melayu digunakan sebagai lingua franca.

Lingua franca adalah bahasa yang dipakai sebagai sarana komunikasi umum pada orang-orang yang memiliki bahasa ibu berbeda.

Seiring berjalannya waktu, melalui interaksi sehari-hari antara budak dan majikan mereka, berkembanglah bahasa Afrikaans. 

Bahasa ini kemudian berevolusi menjadi Afrikaaps, sebuah dialek Afrikaans yang memiliki khas dengan pengaruh bahasa Inggris dan beberapa kata Melayu yang masih bertahan hingga saat ini.

Selain itu, kosakata Indonesia juga masih terdengar di Bo-Kaap, seperti tramakasie (terima kasih), kamar mandie (kamar mandi), boeka (buka), dan masih banyak lagi.

Identitas melayu di Bo-Kaap juga terlihat dalam adat istiadat, kuliner, hingga festival.

Kuliner komunitas Cape Malay juga dikenal memiliki cita rasa yang khas dengan perpaduan pengaruh Asia Tenggara, India, dan Afrika.

Komunitas Melayu di Bo-Kaap Saat Ini

Komunitas Melayu di Bo-Kaap.
Komunitas Melayu di Bo-Kaap. (Foto: South African Tourism)

Hingga sekarang, Bo-Kaap bukan hanya dihuni oleh keturunan Melayu saja. Komunitasnya beragam, mulai dari orang-orang keturunan Afrika, Melayu, hingga India pun turut menetap di kawasan ini.

Menariknya, sejumlah tradisi dan budaya khas Indonesia masih lestari di tengah masyarakat Bo-Kaap.

Kuliner seperti sambal, bubur, hingga kari masih bisa ditemukan dengan mudah di sana.

Islam juga memiliki tempat penting di Bo-Kaap. Mayoritas warga memeluk agama Islam, dan masjid-masjid berdiri kokoh sebagai pusat kehidupan spiritual masyarakat.

Keunikan rumah warna-warni di Bo-Kaap menjadikannya sebagai magnet wisata di Cape Town, Afrika Selatan.

Tak mengherankan kalau banyak wisatawan berdatangan ke Bo-Kaap.

Selain bisa berburu spot foto penuh warna yang Instagramable, pengunjung juga bisa menyusuri museum, mengikuti walking tour, mencicipi kuliner lokal, atau sekadar berbelanja oleh-oleh khas.

Terbaru