Kenapa Orang Jepang Suka Makanan Mentah? Ini Alasan dan Sejarahnya!

Kebiasaan orang Jepang mengonsumsi makanan mentah berakar dari tradisi kuliner, kualitas bahan, dan cara pandang terhadap kesegaran.
Kenapa Orang Jepang Suka Makanan Mentah

Orang Jepang suka makanan mentah karena faktor budaya, kepercayaan terhadap kesegaran bahan, serta sejarah panjang kuliner di Jepang.

Makanan seperti sushi, sashimi, hingga telur mentah sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari dan dianggap aman berkat standar kualitas yang tinggi.

Artikel ini akan membahas alasan, sejarah, serta faktor yang membuat makanan mentah begitu populer di Jepang.

Apa Saja Makanan Mentah yang Populer di Jepang?

Makanan mentah Jepang
Jepang punya banyak makanan mentah yang populer. (Foto: Guidable)

Makanan mentah merupakan bagian penting dari budaya kuliner di Jepang dan telah dikonsumsi selama berabad-abad. 

Tidak hanya ikan, berbagai jenis makanan mentah seperti telur dan daging juga umum dikonsumsi karena dianggap segar, berkualitas, dan aman. 

Berikut beberapa contoh makanan mentah yang populer di Jepang.

Sashimi dan Sushi

Sashimi adalah irisan ikan mentah segar, sedangkan sushi adalah nasi yang dibumbui cuka dan disajikan dengan berbagai topping, termasuk ikan mentah. 

Karena Jepang merupakan negara kepulauan dengan akses laut yang melimpah, konsumsi ikan mentah berkembang secara alami dan menjadi bagian utama dalam kuliner sehari-hari.

Basashi (Daging Kuda Mentah)

Selain ikan, masyarakat Jepang juga mengonsumsi daging mentah, salah satunya basashi atau daging kuda mentah. 

Hidangan ini biasanya disajikan dalam irisan tipis dan dianggap sebagai makanan khas di beberapa daerah tertentu.

Tamagokake Gohan (Nasi dengan Telur Mentah)

Tamagokake gohan adalah hidangan sederhana berupa nasi panas yang dicampur dengan telur mentah dan kecap asin. 

Menu ini sering dikonsumsi saat sarapan dan menjadi contoh bagaimana telur mentah merupakan bagian dari kebiasaan makan sehari-hari di Jepang.

Wagyu Mentah (Gyu-sashi)

Gyu-sashi adalah sashimi daging sapi mentah khas Jepang yang biasanya menggunakan daging wagyu berkualitas tinggi dengan tekstur lembut dan rasa gurih. 

Hidangan ini disajikan dalam irisan tipis dan dikonsumsi dengan saus seperti kecap asin atau ponzu, dengan standar kebersihan yang sangat ketat karena dimakan mentah.

Natto

Natto adalah makanan tradisional Jepang dari kedelai yang difermentasi menggunakan bakteri Bacillus subtilis, dikenal dengan tekstur lengket dan aroma yang kuat. 

Makanan ini sering disantap dengan nasi saat sarapan dan kaya akan protein, probiotik, serta nutrisi yang baik untuk kesehatan.

Torisashi

Torisashi adalah hidangan sashimi ayam mentah khas Jepang yang biasanya disajikan dalam irisan tipis atau setengah matang (tataki). 

Karena berisiko mengandung bakteri, hidangan ini hanya dibuat dari ayam yang sangat segar dengan proses pengolahan berstandar tinggi.

Sejarah Tradisi Makan Makanan Mentah di Jepang

Tradisi makan makanan mentah di Jepang tidak muncul secara instan, tapi terbentuk dari kombinasi faktor geografis, pengaruh kepercayaan, serta perkembangan budaya kuliner selama ratusan tahun. 

Kebiasaan ini berkembang secara bertahap hingga menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.

Pengaruh Geografi dan Kedekatan dengan Laut

Sebagai negara kepulauan dengan wilayah pegunungan dan lahan pertanian yang terbatas, Jepang sangat bergantung pada laut sebagai sumber pangan utama. 

Berdasarkan catatan dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Jepang, perairan di sekitar Jepang merupakan pertemuan arus laut hangat Kuroshio dan arus dingin Oyashio, yang menciptakan ekosistem laut yang sangat kaya akan ikan. 

Letak Jepang dikelilingi laut
Letak Jepang dikelilingi laut. (Foto: Asian Art Museum)

Kondisi ini membuat masyarakat Jepang memiliki akses mudah terhadap bahan makanan laut segar, sehingga konsumsi ikan mentah berkembang secara alami.

Pengaruh Agama Buddha terhadap Pola Makan Jepang

Selain faktor alam, kepercayaan juga memainkan peran penting dalam membentuk pola makan masyarakat Jepang. 

Dalam bukunya The History and Culture of Japanese Food, etnolog Naomichi Ishige mencatat bahwa pada tahun 675 Masehi, Kaisar Tenmu mengeluarkan larangan konsumsi daging tertentu yang dipengaruhi oleh ajaran Buddha. 

Kebijakan ini tidak sepenuhnya mengubah pola makan masyarakat, tapi memperkuat kebiasaan yang sudah ada, yaitu mengandalkan ikan dan bahan nabati sebagai sumber utama makanan.

Periode Edo dan Berkembangnya Budaya Sashimi

Meskipun konsumsi ikan sudah ada sejak lama, kebiasaan memakan ikan mentah mulai berkembang pada Periode Muromachi, ketika kalangan bangsawan mulai menikmati sashimi sebagai hidangan khusus. 

Perkembangan ini semakin pesat pada Periode Edo (1603–1867). 

Dalam bukunya The Story of Sushi: An Unlikely Saga of Raw Fish and Rice, jurnalis kuliner Trevor Corson menjelaskan bahwa produksi kecap asin (shoyu) secara massal membantu meningkatkan cita rasa sekaligus mengurangi bau amis pada ikan. 

Ditambah dengan pasokan ikan segar dari Teluk Edo, sashimi pun berkembang dari hidangan kalangan elit menjadi makanan yang lebih umum dikonsumsi oleh masyarakat.

Kenapa Orang Jepang Suka Makanan Mentah?

Orang Jepang Suka Makanan Mentah
Orang Jepang Suka Makanan Mentah. (Foto: SAVOR JAPAN)

Orang Jepang menyukai makanan mentah karena kombinasi faktor budaya, kepercayaan terhadap kesegaran bahan, serta pencarian cita rasa alami seperti umami. 

Bagi mereka, menyajikan makanan dalam keadaan mentah bukan berarti tidak diolah, melainkan cara untuk menghargai kualitas dan rasa asli dari bahan tersebut.

Faktor Budaya dan Tradisi yang Mengakar

Kebiasaan ini tidak lepas dari filosofi kuliner tradisional Jepang yang dikenal sebagai Washoku. 

Pada tahun 2013, UNESCO menetapkan Washoku sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) karena menekankan penghormatan terhadap alam, keseimbangan gizi, serta pentingnya menjaga cita rasa asli bahan makanan. 

Dalam konteks ini, makanan mentah seperti sashimi dianggap sebagai cara terbaik untuk menikmati bahan berkualitas tinggi tanpa mengubah karakter alaminya.

Kepercayaan terhadap Kesegaran Bahan Makanan

Selain budaya, masyarakat Jepang juga sangat menjunjung tinggi konsep shun, yaitu keyakinan bahwa setiap bahan memiliki waktu terbaik untuk dikonsumsi. 

Oleh karena itu, kesegaran menjadi faktor utama, didukung oleh sistem distribusi dan penyimpanan yang sangat baik sehingga bahan mentah tetap aman dikonsumsi. 

Bagi banyak orang Jepang, kualitas bahan yang segar justru lebih penting daripada proses pengolahannya.

Pengaruh Konsep Umami dalam Kuliner Jepang

Alasan lain adalah adanya konsep umami, yaitu rasa gurih alami yang menjadi ciri khas masakan Jepang. 

Rasa ini pertama kali dijelaskan secara ilmiah oleh Kikunae Ikeda pada tahun 1908, yang menemukan bahwa glutamat merupakan sumber utama umami. 

Dalam praktiknya, ikan mentah yang disajikan sebagai sashimi dapat menghasilkan kombinasi rasa umami yang kuat, terutama saat dipadukan dengan kecap asin, sehingga menciptakan cita rasa yang lebih kaya dan kompleks.

Apakah Makanan Mentah Jepang Aman Dikonsumsi?

Apakah Makanan Mentah Jepang Aman Dikonsumsi?
Apakah Makanan Mentah Jepang Aman Dikonsumsi? (Foto: Cooking Sun)

Bagi banyak orang, konsumsi makanan mentah seperti ikan, daging, atau telur mungkin terasa berisiko. 

Namun di Jepang, praktik ini relatif aman karena didukung oleh sistem distribusi dingin (cold chain), standar kebersihan tinggi, serta keahlian dalam menangani bahan makanan. 

Artinya, keamanan bukan hanya soal bahan mentah itu sendiri, tapi juga bagaimana bahan tersebut diproses dan disimpan.

Standar Penanganan Parasit pada Ikan

Salah satu risiko utama dari ikan mentah adalah parasit seperti Anisakis yang dapat mengganggu sistem pencernaan. 

Di beberapa wilayah seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, terdapat aturan ketat yang mewajibkan pembekuan ikan pada suhu tertentu sebelum dikonsumsi mentah.

Di Jepang, meskipun regulasi pembekuan tidak selalu bersifat wajib, keamanan lebih mengandalkan sistem cold chain yang terjaga dari nelayan hingga konsumen, serta keahlian koki dalam memilih dan mengolah ikan segar. 

Kombinasi inilah yang membuat konsumsi sashimi tetap aman dalam praktik sehari-hari.

Keamanan Konsumsi Telur Mentah

Telur mentah yang sering dikonsumsi di Jepang juga melalui proses pengolahan yang ketat. 

Berdasarkan standar dari asosiasi peternakan dan pedoman pemerintah, telur dibersihkan, diperiksa kualitasnya, serta disterilisasi sebelum dipasarkan.

Selain itu, peternakan unggas di Jepang menerapkan pengawasan kesehatan yang ketat untuk mencegah kontaminasi bakteri seperti Salmonella. 

Hal ini membuat telur di Jepang relatif aman dikonsumsi mentah dalam batas waktu tertentu.

Mengapa Perlu Berhati-hati di Negara Lain?

Meskipun aman di Jepang, praktik ini tidak selalu bisa diterapkan di negara lain. 

Hal ini karena tidak semua negara memiliki sistem distribusi, standar kebersihan, dan kontrol kualitas yang sama.

Di Indonesia, misalnya, ikan atau telur dari pasar umum umumnya tidak disiapkan untuk dikonsumsi mentah. 

Oleh karena itu, jika ingin mencoba makanan mentah, sebaiknya memilih tempat yang terpercaya dan memastikan bahan yang digunakan telah melalui proses penanganan yang aman.

Pengaruh Budaya Makanan Mentah Jepang ke Seluruh Dunia

Restoran Jepang banyak tersebar di segala penjuru dunia
Restoran Jepang banyak tersebar di segala penjuru dunia. (Foto: Japan Guide)

Budaya makanan mentah dari Jepang kini telah menjadi fenomena global. 

Hidangan seperti sushi dan sashimi tidak hanya populer di negara asalnya, tapi juga berhasil mengubah cara pandang masyarakat dunia terhadap makanan mentah.

Dari Penolakan Menjadi Tren Global

Pada awalnya, konsumsi ikan mentah dianggap asing, terutama di negara Barat. 

Namun, dalam artikel akademis bertajuk How Sushi Went Global yang dipublikasikan di majalah Foreign Policy pada tahun 2000, profesor antropologi Harvard University, Theodore C. Bestor mencatat bahwa persepsi ini mulai berubah sejak tahun 1970-an.

Perkembangan ekonomi Jepang dan meningkatnya tren gaya hidup sehat membuat sushi semakin diterima. 

Inovasi seperti California Roll juga membantu memperkenalkan sushi kepada masyarakat global dengan menyesuaikan rasa dan tampilan agar lebih mudah diterima.

Pertumbuhan Restoran Jepang di Seluruh Dunia

Popularitas ini terus berkembang hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Berdasarkan survei perkiraan (approximate survey) yang dilakukan secara rutin oleh Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Jepang, jumlah restoran Jepang di luar negeri telah mencapai lebih dari 150.000 pada tahun 2021.

Bahkan, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 187.000 pada tahun 2023.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa budaya makanan mentah Jepang tidak hanya diterima, tapi juga menjadi bagian dari tren kuliner global yang terus berkembang.

Budaya makan makanan mentah di Jepang bukan sekadar kebiasaan, tapi hasil dari perpaduan sejarah, filosofi, dan standar kualitas yang tinggi. 

Mulai dari pengaruh geografi hingga konsep umami, semua faktor tersebut membentuk cara pandang masyarakat Jepang dalam menghargai kesegaran dan cita rasa alami makanan. 

Tak heran, tradisi ini tidak hanya bertahan selama ratusan tahun, tapi juga berhasil diterima dan populer di berbagai belahan dunia — dan ini hanyalah satu dari sekian banyak budaya unik di dunia yang menarik untuk dipelajari.

Terbaru